Multi Peran Suami

Oleh: Purwanto (Karyawan swasta di Batam)

Sebelum menikah, bayangan saya kalau sudah punya istri itu semua serba enak, serba menyenangkan. Dimasakkan, dicucikan, disetrikakan baju, pokoknya semua yang berhubungan tugas rumah tangga dikerjakan istri. Semasa kuliah dulu, di kontrakan, ada saja teman yang tidak bisa rapi. Kamar berantakan, cucian menumpuk, bahkan bau karena direndam berhari-hari. Kalau pun sudah dicuci, ada juga yang berhari-hari tidak diturunkan dari jemuran. Juga segelas piring bekas makan dan minum yang terlantar di dapur, tugas piket bersih-bersih rumah sering “lewat”, dengan alasan klasik, afwan ane sibuk.. Ada juga yang bilang… “Ya kalau punya istri ntar kan ada yang rapiin”. Iya kalau dapat istri yang rapi, mudah-mudahan begitu, boleh saja berharap demikian, tetapi kalau kenyataannya bertolak belakang, bagaimana? Apalagi saya juga pernah mendapat cerita tentang para akhwat, ternyata kasusnya juga sama. Kamar berantakan, cucian menumpuk, bahkan ada juga yang mencuci saja tidak bisa, seringnya malah ke laundry. Makan termanjakan dengan beli di warung, karena tidak bisa masak sama sekai.
Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Tidak Ada Istri yang Ideal

Oleh Drs. Widi Purwanto, Guru SLTPN 3 Purwonegoro

Seorang teman, ketika masih single, mempunyai “cita-cita” kelak memiliki seorang istri yang kutilangdasi: kuning, tinggi, langsing, dan (maaf) dada berisi, juga berotak cemerlang dan bermoral yang baik. Bertahun-tahun ia mencari calon istri yang ideal menurut pandangannya. Tetapi selalu kandas di tengah jalan karena wanita yang ia temui tidak sesuai dengan idealismenya. Begitu bertemu dengan seorang wanita, ada saja kekurangannya. Konon, jika “distatistik”, lebih banyak kekurangannya daripada kelebihannya.
Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Topeng Bertuah

Oleh */djs

Sebagai manusia normal sesungguhnya Djoko kepingin hidup bahagia. Namun perilakunya yang kasar dan pemarah terkadang justru merugikan citra dirinya di mata orang lain. Ia sering dijauhi orang.

“Kalau ingin bahagia, kamu harus selalu berpikir dan bertindak yang menyenangkan. Untuk itu kamu perlu mengenakan topeng ini,” ujar seorang teman menasehatinya. Jangan bayangkan itu sebuah topeng tradisional dari kayu seperti dalam panggung pertunjukan. Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Mengapa Marah?

Oleh Not

Terus terang, sampai kemarin, saya masih mendongkol. Cenderung kesal, bahkan marah. Seorang teman lama, yang dulu pernah saya bantu beri modal usaha dan kini kabarnya telah jadi jutawan, menyambut dingin jabat tangan saya, saat tak sengaja bertemu di sebuah mal di Jakarta Barat.

Sikapnya terasa angkuh, seolah saya bukan siapa-siapa. Bicaranya kikir kata, seperlunya, dan agak ketus. Sepertinya ingin segera menyudahi perjumpaan. Jangan-jangan dia kira saya mau mengutang, atau malah minta uang. Apa tak ingat, dulu makan pagi-siang-malam saya yang bayari? Termasuk rokok dan nontono bioskop, saya traktir. Bahkan modal yang saya pinjamkan belum ia kembalikan seluruhnya.
Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Mengadili Pengadilan

Oleh */Djs

Terjadi kegaduhan di sebuah pengadilan negeri yang sedang menyidangkan perkara korupsi mantan pejabat tinggi negera. Seorang saksi, bernama Soleh diajukan pengacara terdakwa. “Sdr. Saksi, apakah Anda mengenal saya?” tanya sang pengacara.
Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Mumulihkan Nama Baik

Oleh Ary Santosa Yudha, S. Sos., di Bandung

Nama baik merupakan aset terpenting bagi individu yang berhasrat untuk maju, tumbuh, dan berkembang. Rusaknya nama baik akan merusak pula masa depannya, sebab tanpa nama baik, susah untuk memperoleh kepercayaan.
Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Ketika Musim Hemat Energi Tiba

Oleh PRI (dalam Indonesiana: Warna-warni Negeri Tercinta, halaman 13)

Banyak hal (diharapkan) berubah sejak Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penghematan Energi. Para menteri diminta menanggalkan jas demi mengurangi penggunaan pendingin udara di ruangan mereka, acara TV stop tayang pukul satu pagi dan lampu-lampu penerang jalan pun terpaksa dimatikan mulai pukul sepuluh malam.
Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Cerita, Lihat, dan Libatkan

“Berceritalah, maka saya akan melupakannya; perlihatkanlah, maka saya akan mengingatnya; libatkanlah, maka saya akan memahaminya.” — Peribahasa Cina

(Sumber: Majalah Intisari, nomor 540, edisi Juli 2008, halaman 22)

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Pertengkaran antara Pria dan Wanita

“Pertengkaran antara pria dan wanita akan selalu terjadi, sebab mereka mempunyai keinginan yang berbeda. Pria menginginkan wanita dan wanita mendambakan pria.” — George Burns [komedian]

(Sumber: Majalah Intisari, nomor 540, edisi Juli 2008, halaman 42)

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar

Intinya, Banyak Bekerja daripada Banyak Bicara

“Jika A adalah sukses dalam hidup, maka A sama dengan x ditambah y ditambah z, di mana z sama dengan bekerja, y sama dengan bermain, dan z adalah tutup mulut Anda.” — Albert Einstein [1879-1955]

(Sumber: Majalah Intisari, nomor 540, edisi Juli 2008, halaman 45)

Dipublikasi di Renungan | Tinggalkan Komentar